SEPENGGAL KISAH SEJARAH BELAWA III

Sebagaimana yang telah kami sebutkan bahwa Sejarah belawa ada beberapa versi namun terlepas dari itu marilah kita mengambil hikmah dan hal positif dari cerita ini, kalau perlu jadikan motivasi untuk membangun belawa sesuai dangan keahlian diri kita masing masing Karena ada kasamaan cerita dari sumber kami yang sempat kami rekam,maka tulisan silessurengta Hasmulyadi Hasan yang beliau kirim kepada kami beberapa bulan lalu yg akan kami angkat di BC yang menurut pengakuan beliau di dapat dari Kantor DIKNAS Kec.Belawa. Nama Belawa berasal dari sebuah pohon, yaitu pohon Belawa. Asal usul pohon ini hanya tumbuh di pinggir sungai di Macero. Ketika pohon itu tumbang, panjangnya bermula dari tikungan sungai Macero sampai Soreang Lopie, kira-kira jauhnya 2,7 km. bekas tempat tumbuhnya pohon tersebut ada sebuah lubang, sekarang menjadi penampungan air, garis tengah atau diameter lubang tersebut kira-kira 25 m. jadi besar pohon tersebut kurang dari 25 m. Getah kayu ini bila ditoreh akan keluar cairan berwarna putih, setelah kering berwarna hitam. Bila kena pada kulit manusia, kulit tersebtu akan gatal-gatal seperti keracunan dan membengkak berisi cairan. Obat mujarab dan sering digunakan oleh masyarakat adalah ludah orang Belawa asli, sifat penyakit ini tidak menular. Lokasi kecamatan Belawa dahulunya adalah air, setiap empat tahun baru daerah ini menjadi daerah pertanian. Jadi lebih banyak menjadi daerah pertanian. Para nelayan datang dari sekitar danau tempe dan danau sidenreng. Misalnya orang Bulu Cenrana dari utara, orang Palippu dari timur, oran Sidenreng dari barat dan orang Bila dari selatan Soppeng. Kalau musim kemarau, tanah sudah kering datanglah petani-petani untuk berpalawija dan mereka tinggal sementara untuk bercocok tanam. Pada musim palawija dan musim penangkapan ikan dengan frekwensi satu kali palawija empat tahun berturut-turut. Setelah delapan tahun hampir seluruhnya menjadi daratan. Pada waktu datang air menggenangi semua pondok mereka, mereka meninggalkan tempat itu dan kembali ke kampung mereka dan berkumpul dengan keluarganya. Seorang sudah berusia lanjut, yang sering dipanggil dengan”lato-lato’ mencoba membuat rumah yang dapat terapung di atas air untuk menghindari banjir. Sehingga ketika musim hujan tiba, ia tidak perlu lagi pulang ke kampungnya di Bulu Cenrana. Ketika raja Toapanna dari Mancapai kawin dengan raja Masalaojie di Sidenreng dan melahirkan lima orang anak. Karena usianya telah tua, maka Masalojie merasa perlu membagi kerajaan kepada anak-anaknya. Maka diberikanlah anak pertama sebagai datu di Sidenreng, anak kedua si Suppa, anak ketiga datu di Sawitto, anak ke empat datu di Rappang, dan yang kelima datu di Alitta’. Setelah pembagian kerajaan tersebut, Masalojie hamil, padahal ia tidak berharap sebab usianya telah tua. Ketika saat melahirkan tiba, lahirlah seorang putera dan diberinya nama “Lawewangriu”, hal ini dikarenakan ketika ia dilahirkan pertir dan guruh sambung menyambung (sianre-anre ure’ winrue) di samping itu juga dilahirkan dalam keadaan tanpa tali pusar dan janin. Karena kerajaan telah dibagi kepada saudara-saudaranya, maka Lawewangriu tidak punya kerajaan lagi, ibunya memohon kepada saudara-saudaranya untuk memberikan masing-masing sedikit dari kerajaan saudara-saudaranya, akan tetapi hal ini kurang disetujui oleh saudara-saudaranya yang lain. Kebijksanaan yang diberikan yaitu Lawewangriu boleh mengambil apa saja yang diinginkan dari kerajaan saudara-saudaranya itu tanpa ada yang dapat melarangnya. Atas kebijksanaan itu Lawewangriu bertindak semaunya. Apa yang diinginkannya, semua dilakukan tanpa ada yang melarangnya. Mulai dari burung sampai anak gadis orang pun diambilnya. Rakyat merasa resah karena ulahnya itu. Pemangku adat mengadakan rapat untuk membicarakan perihal Lawewangriu. Keputusan ade’ sidenreng menyatakan Lawewangriu harus dibuang demi ketentraman rakyat banyak. Maka dibuanglah Lawewangriu di atas sebuah rakit bersama pengikutnya yang turut serta. Rakit tersebut terdampar di bagian timur danau sidenreng. Anak buahnya naik untuk mencari tempat sebagai pemukiman tempat beristirahat, maka ditemukan sebatang pohon yang cocok untuk berteduh di bawahnya. Itulah pohon belawae. Di tempat itu anak buah Lawewangriu membuka lahan pertanian dengan menggunakan Bangkung manurung pemberian ibunya sewaktu hendak berangkat. Hasil pertanian cukup melimpah karena tanahnya cukup subur, demikian pula dengan hasil nelayan bagi mereka yang turun ke danau mencari ikan. Karena kesuburannya serta keberhasilan pertanian, maka berdatanganlah penduduk dari sekitar tempat tersebut untuk bertani atau nelayan. Ketika Lawewangriu hendak menikah dengan anak Arung Batu, orang Belawa mengadakan musyawarah dengan pendatang dari daerah sekitar, maka dipanggillah: 1. Topatampanuae yang terdiri dari Wage, Tempe, Sengkang dan Tampangeng. 2. Tolimpanuae yang terdiri dari Sidenreng, Suppa, Rappang, Alitta, dan Sawitto. Adapun hasil musyawarah tersebut adalah: – Lawewangriu kawin dengan anak arung Batu – Orang Belawa menyanggupi uang belanja dari perkawinan tersebut – Topatampanuae menyanggupi uang emas. Setelah perkawinan di Batu (Bulucenrana) Lawewangriu kembali ke Belawa bersama istrinya. Karena panduduk semakin bertambah demikian pula hasil pertanian kian melimpah, maka masyarakat menginginkan terbentuknya sebuah kerajaan. Disepakatilah Lawewangriu menjadi raja Belawa. Masa pemerintahan Lawewangriu pernah berperang melawan sauadara-saudaranya sendiri yaitu Tolimpanuae dan kemenangan di pihak Belawa. Sebagai raja yang memerintah kerajaan Belawa, Lawewangriu mempunyai dua orang anak, maka kerajaan dibagi dua untuk dua orang anaknya. Belawa Timorengnge diberikan pada Lapalebbengi dan Belawa Wattangnge diberikan pada We Mappasukku anak perempuannya. Ketika anak raja bone akan dikawinkan dengan anak raja Sailong (bawahan kerajaan Bone), kerajaan Sailong merasa keberatan karena menganggap raja Sailong derajatnya lebih tinggi dari pada kerajaan Bone. Mendapat penolakan dari raja Sailong, Bone merasa tersinggung, maka didatangkanlah tiga daerah untuk memerangi Sailong yaitu: Soppeng, Wajo, dan Bone sendiri. Belawa adalah kerajaan kecil yang mengikut kerajaan Wajo. Setelah tiga tahun berperang, benteng Sailong belum dapat ditembus, akhirnya raja Bone sendiri turun ke medan perang. Ketika raja Bone menanyakan tentang kehadiran semua pasukan, Wajo menyampaikan bahwa Belawa belum hadir, karena Arungpone marah dan berpesan pada pasukan yang hadir “jere’ tellui Belawa nainappa muelliang musiu (bagi tiga Belawa kemudian kamu belikan mesiu). Mengetahui dirinya dibagi tiga, kerajaan Belawa merasa tersinggung, maka bermusyawarahlah Towarani Pitue (tujuh orang pemberani) yang merupakan gelar yang cukup disegani di kerajaan Belawa pada saat itu. Atas kesepakatan, berangkatlah tiga orang menuju Sailong, sedang empat lainnya tetap menjaga kerajaan. Adapun yang berangkat adalah Tallipulu Bassie, Lajang-lajang, Balo Tekkessue. Sebelum berangkat ke Sailong mereka berjanji yang bunyinya: “Cappa tappita’pa mappadaoroane nari jere’ tellu Belawa’. (nanti habis tujuh bersaudara baru Belawa dibagi tiga). Dengan menggunakan perahu, tiga orang tersebut menuju Sailong. Sesampainya di sana, Talippulu Bassie membunuh penjaga gadis Sailong yang bergelar Towaraninna Sailong, sementara lajang-lajangnge melarikan sang gadis yang bernama Itenri Balobo, dan Balo Tekkessue membakar kota dan mengambil gendang mesjid untuk dibawa ke Belawa. Ketika anak raja Bone hendak dikawinkan dengan gadis Sailong, Belawalah yang menjadi orang tua mempelai wanita. Setelah perkawinan selesai, Belawa dipanggil oleh raja Bone dan menanyakan kekurangan Belawa, maka dijawablah bahwa Belawa tanahnya sempit. Sebagai balas jasa diutuslah Kareng Miko ke Belawa untuk memberikan tanah dengan menaiki perahu La Batang Kera. Batas-batasnya adalah: – Sebelah selatan Danau Tempe (masuk danau) – Sebelah barat daya Larippabbatu-batu, masuk sungai Lawewangriu – Sebelah utara barat laut, Ujung Deya masuk sungai Amessangeng sampai Cenrana-Anabanua, belok ke Lempong Sitonrae sampai Lasabo – Sebelah timur, ke Salo Labulu Kessi, menyeberang ke sungai Lonra, ke Belawa Tassoddo’e, Tellang Rakkoe Awo Tawaroe, ke Labobo, Ujung Tarae, sampai Lasiratu, Ujung Tanah Lapparingnge. Demikianlah sehingga wilayah Belawa mulai meluas.

Iklan

One thought on “SEPENGGAL KISAH SEJARAH BELAWA III

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s