MERPATI INI…

Sinar itu beranjak mengepak pergi

Tak bersisa celah pelega risau merpati ini….

 

Wahai…

Tinggal, tinggallah selagu saja

gelayut rindu masih berdetak disini

 

karena tak mungkin kubetahkan sepi sampai esok hari

tak mungkin juga sendiri dulu berlenggang tenang sampai habis waktu

 

Sempatlah berlama-lama…

biar kepingan hati ini bersorak sejenak

biar lepas galau yang meraja

biar separuh nafas ini utuh berjaya.

 

 

maka bersediakah dikau….?

My Wied

BERPINDAH KIBLAT

Pernah keanggunan terlatih membalutmu

pernah terenyuh hatiku untuk menjadi baik padamu

pernah juga kupinta dirimu untuk mengingkari makna

menjemput takdir dan mati bersamanya

melajulah sepersekian detik

aku berpindah waktu, dan menjadi kejam kepadamu

berkiblat sesaat pada sumpah serapahmu

tapi aku semakin menjadi biasa, makin menjadi sederhana…

dan hari ini….

kenapa masih saja benci itu belum punah diwajahmu…?

My Wied

KUTUKAN YANG KARAM

Kenapa dia masih saja menjadi si “asing” pada duniaku,

bukankah dihari “istimewa”nya para makhluk tuhan

dia berhasil menampakkan wujudnya pun hanya sekali…?

 

Kenapa dia masih menjadi “orang lain”

padahal ada ikatan yang ber “ruh” diantara kami…

 

apakah karena dia dulu telah membunuh hatiku

hingga pandanganku kian sangsi kepadanya…?

 

Kau sang pembunuh hati…

maafkan, aku tak punya rasa untukmu

mantramu yang menyulapnya demikian

 

kau sang penebar kata….

maafkan, tak satupun dari rentetan hurufmu membuatku hidup.

sungguh…telah karam kutukanmu yang pernah kau tata

telah patah nilai yang juga pernah ku “ruh”kan kepadamu.

 

kemarin, hari ini dan esok MAAFKAN AKU…

 

My Wied