TENTANG KITA

Kita sederhana, saling asing terjebak diam
tapi tatap penuh harap meski nanti tak pernah teraminkan

Harusnya kita saling sapa
menikmati waktu yang kian ketat memeluk bibir kita
imaji kita serupa, siksa

Harus seperti apa bahasa kita
harus bagaimana kuteriak dibatinmu

Mencipta jejak yang kita sisa
memberi tanda pada riak hati kita

Semua telah luruh dalam mantra rasa kita

My Wied, 140313

MASIH (Kamu)….

Bahwa hidupmu penuh dengan angka berjejal
Tapi tak bisa kubaca nilainya berapa

Bahwa hadirmu penuh mistik
yang tak bisa kueja mantranya

Kamu ruang tak berpenghuni
menyatu sesak tak bisa indah

Kamu raja tanpa tahta tanpa kuasa
merusak rentetan semangatku yang berpeluh.

Mywied

MERPATI INI…

Sinar itu beranjak mengepak pergi

Tak bersisa celah pelega risau merpati ini….

 

Wahai…

Tinggal, tinggallah selagu saja

gelayut rindu masih berdetak disini

 

karena tak mungkin kubetahkan sepi sampai esok hari

tak mungkin juga sendiri dulu berlenggang tenang sampai habis waktu

 

Sempatlah berlama-lama…

biar kepingan hati ini bersorak sejenak

biar lepas galau yang meraja

biar separuh nafas ini utuh berjaya.

 

 

maka bersediakah dikau….?

My Wied

BERPINDAH KIBLAT

Pernah keanggunan terlatih membalutmu

pernah terenyuh hatiku untuk menjadi baik padamu

pernah juga kupinta dirimu untuk mengingkari makna

menjemput takdir dan mati bersamanya

melajulah sepersekian detik

aku berpindah waktu, dan menjadi kejam kepadamu

berkiblat sesaat pada sumpah serapahmu

tapi aku semakin menjadi biasa, makin menjadi sederhana…

dan hari ini….

kenapa masih saja benci itu belum punah diwajahmu…?

My Wied

KUTUKAN YANG KARAM

Kenapa dia masih saja menjadi si “asing” pada duniaku,

bukankah dihari “istimewa”nya para makhluk tuhan

dia berhasil menampakkan wujudnya pun hanya sekali…?

 

Kenapa dia masih menjadi “orang lain”

padahal ada ikatan yang ber “ruh” diantara kami…

 

apakah karena dia dulu telah membunuh hatiku

hingga pandanganku kian sangsi kepadanya…?

 

Kau sang pembunuh hati…

maafkan, aku tak punya rasa untukmu

mantramu yang menyulapnya demikian

 

kau sang penebar kata….

maafkan, tak satupun dari rentetan hurufmu membuatku hidup.

sungguh…telah karam kutukanmu yang pernah kau tata

telah patah nilai yang juga pernah ku “ruh”kan kepadamu.

 

kemarin, hari ini dan esok MAAFKAN AKU…

 

My Wied

Menjarah rindu….

Aku diketika senja merambah gelap…ada kangen yang membuncah disini…

kutandaskan resah itu dan merengkuh waktu yang begitu terasa sangat lama…

 

waktu berpihak kepadaku, kepada rinduku hingga kutemukan dirimu dalam riak hatiku

waktu berkompromi denganku, dengan rasaku yang mengepak mimpi menjadi nyata…

 

disini didepan bayanganmu….

duduk manis aku dengan genggammu yang menghangat,

 

Berharap ranah rindu kan memagut temu dalam sekian…

di persekian waktu yang selalu membuat hatiku kuat untukmu….

 

 

My Wied

Rindu ini bertuan kamu….

Sang pemilik hati…

kurayu dirimu dengan nadaku, merinai waktu yang terasa sangat lama ini,…

kau tau…rindu ini bertuan kamu tidak kepada yang lain…

 

nama yang selalu kulafaz dalam doaku adalah namamu, tidak yang lain…

kamu akan meraja dihatiku, berbalut cinta yang menoktah disetiap inci nafasku…

semoga tak tergantikan,….

 

indah tentang kamu selalu merasukiku…dan aku senang….

 

 

 

 

My Wied